Siang hari di Kota Zhurong tetap ramai seperti biasa. Para pedagang dan pembeli dari desa-desa sekitar berdatangan, berharap menemukan keberuntungan di pusat perdagangan yang makmur ini. Namun, ada satu hal yang membuat hari ini berbeda—percakapan di antara mereka dipenuhi dengan kegemparan tentang ledakan dahsyat yang mengguncang kota saat fajar menyingsing.

Ledakan itu merusak beberapa bangunan di sekitarnya. Orang-orang yang masih berada di dalam rumah menjadi korban, beberapa mengalami luka parah, sementara yang lain kehilangan nyawa saat bersiap memulai rutinitas harian mereka.

Di dalam sebuah ruangan, suasana tegang menyelimuti. Lynx, Leena, Narendra, dan Arkha duduk serius, tatapan mereka tertuju pada Jelita yang berdiri di hadapan mereka.

Sejak ledakan terjadi, mereka telah berusaha mencari Jelita dan Kael, tetapi keduanya menghilang tanpa jejak. Yang lebih mengkhawatirkan, mereka juga kehilangan Lala. Padahal, saat mereka sedang menyelidiki lokasi ledakan, Lala masih bersama mereka. Namun, dalam kesibukan mencari Jelita dan Kael, mereka terlambat menyadari bahwa Lala telah menghilang tanpa sepatah kata pun.

Lynx segera memeriksa kertas formasi yang sebelumnya ia berikan pada Lala. Seharusnya, dengan jejak kekuatan sakti yang tertanam di dalamnya, ia bisa melacak keberadaannya, tidak peduli sejauh apa pun Lala pergi. Namun, meskipun Lynx telah memperluas jangkauan pencariannya hingga ke tiga benua, ia tidak dapat merasakan keberadaan energi yang ditinggalkan di dalam kertas itu.

Ekspresi Lynx mengeras. Ada satu kemungkinan yang membuatnya tidak dapat merasakan jejak tersebut—Lala telah berpindah ke dimensi dunia yang berbeda. Jika hanya disimpan dalam ruang penyimpanan, jejak energi itu seharusnya masih bisa terdeteksi.

Ketika keputusasaan mulai menyergap, tiba-tiba Lynx merasakan riak energi Qi milik Jelita. Getaran itu berasal dari sebuah bangunan tua yang terletak beberapa blok dari Paviliun Bulan Perak.

Tanpa ragu, Lynx mengerahkan kecepatannya. Dalam sekejap, ia sudah berdiri di depan bangunan itu—sebuah gudang tua yang telah lama ditinggalkan. Ia hendak mengaktifkan "Mata Langit", nama yang dia berikan untuk kemampuan tembus pandangnya yang istimewa, untuk menembus tembok dan mengintip situasi di dalamnya, namun sebelum sempat melakukannya, pintu kayu tua itu berderit terbuka.

Sosok Jelita muncul dari dalam, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar. Begitu melihat Lynx, ia langsung berlari dan memeluknya erat, bahunya terguncang oleh tangis yang memilukan.

“Lynx…” isaknya, suaranya dipenuhi kesedihan yang menusuk. Berulang kali, ia menyebut nama Kael di antara isak tangisnya.

Lynx mengerutkan kening. Ada sesuatu yang tidak beres.

“Jelita, apa yang terjadi? Di mana Kael?” tanyanya dengan suara tegas.

Namun, Jelita hanya terus menangis. Trauma yang ia alami begitu dalam hingga kata-kata terasa sulit keluar dari bibirnya. Rasa sedih dan kehilangan didepan mata disaat mereka belum menemukan keluarga yang lain membuatnya sangat terpukul.

Hati Lynx semakin tidak tenang. Kael… apakah dia yang telah menyakiti Jelita?

Tatapan Lynx menggelap. Ia harus mencari tahu kebenarannya—sebelum semuanya terlambat.

Melihat kondisi Jelita yang tak kunjung membaik, Lynx segera menggendongnya dan membawanya ke Paviliun Bulan Perak.

Begitu mereka tiba, Leena langsung menghampiri dan memeluk Jelita erat, wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

Lynx menarik napas dalam, mencoba mengingat isi kitab pengobatan yang pernah dipelajarinya. Ia segera teringat bahwa Pil Pemurnian Qi yang pernah ia buat beberapa hari lalu mengandung Spiritual Lotus Flower, tanaman yang dikenal dapat menenangkan hati dan menstabilkan Qi yang terguncang.

Tanpa ragu, ia mengambil pil tersebut dan menyuapkannya ke bibir Jelita, kemudian menyalurkan energi Qi ke tubuhnya agar efeknya dapat segera terasa. Perlahan, tubuh Jelita yang semula gemetar mulai tenang, dan napasnya pun terlihat lebih teratur.

Tak lama kemudian, Arkha dan Narendra tiba di Paviliun Bulan Perak. Mereka segera menuju ke ruangan tempat Lynx dan Leena berada. Rupanya, Leena telah mengirim pesan kepada salah satu anak buah Kael untuk memanggil mereka.

Jelita, yang kini sudah mulai bisa mengendalikan diri, akhirnya menghentikan tangisnya.

Leena menggenggam tangan Jelita dengan lembut, suaranya penuh kehati-hatian. "Jelita, tenangkan dirimu. Tolong ceritakan kepada kami… Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau terus menyebut nama Kael?"

Mata Jelita kembali berkaca-kaca. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Kanaya… wanita itu telah membunuh Kael. Dia menembak dadanya dengan senjata laser… mirip dengan senjata yang pernah dimiliki Kael dulu."

Ruangan itu seketika sunyi.

"Kael…!" seruan mereka menggema hampir bersamaan.

Kesedihan menyelimuti hati mereka. Kael, orang yang telah berjasa dalam mencari dan mengumpulkan mereka, kini telah tiada. Leena dan Narendra tidak bisa menahan air mata mereka.

Arkha menatap Jelita dengan mata membelalak, suaranya bergetar, penuh harap bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman. "Jelita… apa kau yakin Kael tertembak?"

Jelita mengangguk lemah. "Aku memeluknya… sebelum wanita itu menembakkan sesuatu ke tubuhku. Setelah itu… aku kehilangan kesadaran. Saat tersadar, aku sudah berada di tempat di mana Lynx menemukanku… dalam keadaan terikat."

Lynx menganggukkan kepalanya, kini mengerti mengapa ia kesulitan melacak keberadaan Jelita. "Itu sebabnya aku tidak bisa menemukanmu. Kesadaranmu yang hilang membuat aliran Qi-mu tak bisa terbaca."

Ketegangan di ruangan itu belum mereda ketika tiba-tiba seorang anak buah Kael datang, membawa seorang anak kecil laki-laki berusia sekitar tujuh tahun, serta seorang pria tua yang tampak kelelahan.

Anak buah tersebut menatap mereka dengan serius. "Kami menemukan bocah ini saat menyelidiki. Dia mengatakan mengetahui sesuatu tentang Lala. Karena itu kami membawanya bersama kakeknya yang ingin menemani."

Mereka semua saling berpandangan. Jika anak kecil ini mengetahui sesuatu tentang Lala, maka mungkin ada harapan bagi mereka untuk mengungkap lebih banyak kebenaran di balik kejadian ini.

"Ceritakan kembali apa yang kau sampaikan padaku tadi," perintah anak buah Kael kepada anak kecil itu.

Bocah tersebut terdiam, tubuhnya menegang di tengah tatapan para pria dewasa di sekelilingnya. Ada ketakutan di matanya, seolah ia ingin menangis tetapi menahannya dengan sekuat tenaga.

Melihat ekspresinya yang gentar, Leena segera melangkah maju, berjongkok di hadapan bocah itu sambil tersenyum lembut. Dari cincin pemyimpanan, ia mengeluarkan sepotong kue yang masih hangat dan beraroma harum.

"Jangan takut, kami bukan orang jahat. Ini untukmu," kata Leena dengan suara menenangkan. "Kamu boleh memakannya sambil bercerita, ya?"

Bocah itu menoleh ke arah kakeknya, mencari kepastian. Setelah melihat sang kakek menganggukkan kepala, ia perlahan menerima kue tersebut, lalu mulai menyantapnya dengan lahap.

Setelah beberapa gigitan, ia akhirnya mulai berbicara, "Tadi subuh, saat melihat ledakan itu, ada seorang kakak perempuan yang mendatangiku. Dia bilang akan memberiku banyak koin perak dan makanan lezat jika aku mau membantunya."

Ia berhenti sejenak untuk menggigit kuenya lagi, lalu melanjutkan, "Kakak itu memintaku memberikan sebuah kertas kepada kakak perempuan yang sebelumnya kulihat bersama kalian. Aku pun menuruti permintaannya dan mengajaknya bertemu dengan kakak perempuan yang menjanjikanku kue."

Tiba-tiba, ekspresi bocah itu berubah. Mata polosnya yang tadi berbinar kini dipenuhi kekesalan. "Tapi dia jahat! Dia tidak menepati janjinya! Dia bahkan ingin memukulku, tapi kakak perempuan yang satu lagi menolongku!"

Lynx dan yang lainnya langsung bisa menebak siapa kakak perempuan yang dimaksud. Kanaya.

"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanya Leena dengan lembut.

Bocah itu menggeleng pelan. "Aku kesal, jadi aku diam-diam mengikutinya. Aku melihat mereka masuk ke rumah temanku. Aku pun menyelinap masuk lewat lubang di pagar."

Perlahan, wajah bocah itu berubah ketakutan. "Aku melihat mereka berdiri diam di halaman... lalu tiba-tiba menghilang begitu saja!"

Mata Lynx menyipit, pikirannya bekerja cepat. "Menghilang begitu saja?" Ia merenung dalam hati. "Apakah anak ini berbohong...? Ataukah yang dilihatnya adalah seorang kultivator sehingga bergerak cepat tanpa terlihat anak tersebut?"

Ia mengalihkan pandangannya pada pria tua di sebelah bocah itu. "Kakek, bisakah kalian mengantar kami ke tempat yang kau maksud?"

Pria tua itu mengangguk mantap. "Tentu, aku juga mengenal keluarga pemilik rumah itu. Aku juga sudah mendengar cerita tersebut dari cucuku."